Rabu, 04 Mei 2011

Model Pembelajaran Sastra dengan Metode Mind Maps ‘Peta Pikiran’ untuk Peningkatan Daya Berpikir Kreatif dan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Sekolah Dasar


A.           Pendahuluan
Pesatnya kemajuan di bidang pendidikan dan teknologi telah menjadi pemicu tumbuhnya semangat pembahuruan/inovasi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Para pakar pendidikan terus berusaha mengembangkan berbagai model atau pun metode pembelajaran untuk peningkatan mutu pendidikan, tidak terkecuali pembelajaran bahasa Indonesia. Pemerintah pun tidak tinggal diam dalam usaha peningkatan mutu pendidikan negeri ini. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam menghadapi masalah tersebut adalah dengan melakukan pembaharuan kurikulum serta penetapan kebijakan yang berupa undang-undang tentang guru dan dosen yang di dalamnya memuat unsur tenaga profesional.
 Pembaharuan kurikulum dan pembentukan undang-undang dilakukan oleh pemerintah dengan harapan setiap tenaga pendidikan benar-benar memiliki kompetensi yang unggul di bidangnya. Lalu apakah harapan itu tinggal harapan? Hal itulah yang menjadi tugas kita sebagai pendidik. Perkembangan dunia pendidikan menuntut adanya kesadaran dari setiap pendidik untuk terus berusaha memberikan yang terbaik untuk genarasi bangsa. Para pengembang kurikulum perlu memperhatikan bentuk kebutuhan masyarakat, karakteristik pembelajar, dan lingkup pengetahuan menurut hierarki keilmuan (Taba dalam Hamalik, 2009). Perhatian itu dimaksudkan supaya setiap hal yang berkepentingan dengan masyarakat pembelajar dapat terakomodasi dengan baik dalam proses pembelajaran.
Penerapan berbagai model pembelajaran menjadi hal yang tidak asing lagi di Indonesia karena seiring dengan berkembangnya kurikulum KTSP perkembangan model pembelajaran pun terus diperkenalakan kepada masyarakat pendidik. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa masih ada pendidik yang tidak mengetahui akan perkembangan  dunia pendidikan terbaru.  
Kurikulum merupakan suatu sistem yang memiliki komponen-komponen tertentu. Sistem kurikulum terbentuk oleh empat komponen, yaitu komponen tujuan, isi kurikulum, metode atau strategi pencapain tujuan, dan komponen evaluasi.  Sebagai suatu sistem setiap komponen harus saling bekaitan satu sama lain. Manakala salah satu komponen yang membentuk sistem kurikulum terganggu atau tidak berkaitan dengan komponen lainya maka sistem kurikulum pun akan terganggu pula. Dengan adanya  keempat komponen kurikulum tersebut diharapkan dapat tercapainya tujuan pendidikan nasional, yang meliputi bahan kajian dan mata pelajaran.
Tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia pembangunan  berpancasila dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 ( Tap MPR Nomor IV/MPR/!973 dalam Hamalik, 2009:131).

Kurikulum merupakan alat yang krusial dalam merealisasikan program pendidikan karena dengan adanya kurikulum gambaran tentang sistem pendidikan akan terlihat dengan jelas. Pada hakikatnya kurikulum juga dikatakan sebagai suatu program kegiatan terencana dengan rentang waktu yang cukup luas hingga membentuk suatu pandangan yang menyeluruh (Hamalik, 2009:5).
Pembelajaran sastra merupakan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum pelajaran bahasa Indonesia serta  bagian dari tujuan pendidikan nasional, yaitu membentuk manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta kreativitas. Model pembelajaran sastra dengan metode mind maps untuk peningkatan daya berpikir kreatif serta kemampuan menulis puisi siswa sekolah dasar adalah salah satu upaya yang dilakukan oleh pendidik untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Usaha penerapan model tersebut disesuaikan dengan tingkat capaian yang diinginkan oleh pendidik.
Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan satu kesatuan utuh yang terbentuk dari pendekatan, strategi, metode, teknik dan taktik pembelajaran.
Adanya model pembelajaran sastra dengan metode mind maps akan memberi nuansa baru dalam proses pembelajaran sastra baik bagi siswa maupun bagi guru. Beragamnya metode yang diterapkan dalam pembelajaran sebenarnya akan menambah kreativitas guru dan siswa dalam memaknai suatu pembelajaran. Metode mind maps adalah suatu metode yang berusaha mengembangkan pikiran anak dengan sistem membentuk peta pikiran melalui serangkaian usaha.
Mind maps merupakan cara kreatif peserta didik secara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran, atau merencanakan penelitian baru. Dengan memerintahkan kepada peserta didik untuk membuat peta pikiran, mereka akan menemukan kemudahan untuk mengidentifikasi secara jelas dan kreatif  apa yang telah mereka pelajari dan apa yang sedang mereka rencanakan (Silberman, 2002:188).

Penerapan sebuah metode tidak serta merta langsung berhasil jika guru tidak mengetahui cara kerjanya. Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (KBBI, 1995 dalam Iskandarrwassid & Sunendar, 2008:56).
Belajar puisi adalah belajar mengungkapkan kata-kata secara puitis/menarik yang pembacaannya dengan berbagai intonasi. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam pembelajaran puisi karena materi puisi itu sendiri merupakan materi yang menarik. Namun, fenomena sekarang puisi menjadi hal yang tidak menarik. Itu  karena pengaruh dari proses pembelajaran yang mungkin kurang sesuai. Untuk itu, guru dapat memilih menggunakan metode mind maps sebagai salah satu cara dalam memotivasi siswa serta usaha untuk mengubah pola pikir bahwa belajar puisi itu menyenangkan.


B.            Teori dan Pembahasan
1.    Siswa/peserta didik sebagai Subjek Belajar
Peserta didik adalah manusia yang sangat unik. Mereka memiliki karakteristik tertentu. Berdasarkan penelitian beberapa ahli, dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah makhluk yang sedang berkembang, yang memiliki minat dan bakat yang berbeda-beda (Wina Sanjaya, 2009:71). Peserta didik terkadang diposisikan sebagai anak, dalam sudut pandang agama Islam, anak adalah manusia yang masih suci (fitrah), bagaikan kertas yang putih bersih, mereka siap untuk menerima bentuk-bentuk yang akan digambarkan oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Baik keluarga, guru, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam hubungannya dengan pendidikan, desain pendidikan atau kurikulum haruslah yang cocok dengan irama perkembangan anak.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagaimana yang dikutip oleh Murip Yahya (2008:113 dalam Abya, 2010), dijelaskan bahwa yang dimaksud peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan formal, secara sistematis merencanakan bermacam-macam lingkungan, yakni lingkungan pendidikan yang menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan belajar. Dengan berbagai kesempatan belajar itu, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dan ditata dalam suatu kurikulum, yang pada gilirannya dilaksanakan dalam bentuk proses pembelajaran.
Peserta didik adalah subjek utama dalam pendidikan. Dialah yang belajar setiap saat. Peserta didik dalam kegiatan pendidikan merupakan obyek utama (central object). Di dalam proses belajar-mengajar, peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-cita dan memiliki tujuan dan kemudian ingin mencapainya secara optimal. Jadi, dalam proses belajar mengajar yang perlu diperhatikan pertama kali adalah peserta didik, bagaimana keadaan dan kemampuannya, baru setelah itu menentukan komponen-komponen yang lain. Apa bahan yang diperlukan, bagaimana cara yang tepat untuk bertindak, alat, dan fasilitas apa yang cocok dan mendukung, semua itu harus disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik peserta didik. Itulah sebabnya peserta didik merupakan subjek belajar.

2.    Membangun Interaksi dalam Pembelajaran Sastra
Prinsip-prinsip edukatif ditentukan dengan harapan mampu menjembatani dan memecahkan masalah yang sedang dihadapi guru dalam kegiatan interaksi pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut adalah prinsip motivasi, prinsip fokus, prinsip kepribadian, prinsip pemecahan masalah, prinsip mencari, menemukan, dan mengembangkan sendiri, prinsip belajar sambil bekerja, prinsip hubungan sosial, dan prinsip perbedaan individual (Djamarah, 2005).
Interaksi dalam pembelajaran dibangun oleh tiga tahap dari tugas yang bersifat suksesif, yaitu tahap sebelum pengajaran, (bekal bawaan anak didik, perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan metode, pemilihan pengalaman-pengalaman belajar, pemilihan bahan dan peralatan belajar, mempertimbangkan jumlah dan karakteristik anak didik, mempertimbangkan jumlah dan pelajaran yang tersedia, mempertimbangkan pola pengelompokan, mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar); tahap  pengajaran (pengelolaan dan pengendalian kelas, penyampaian informasi, penggunaan tingkah laku verbal dan nonverbal, merangsang tanggapan balik dari anak didik, mempertimbangkan prinsip-prinsip belajar, mendiagnosis kesulitan belajar, mempertimbangkan perbedaan individual, menevaluasi kegiatan interaksi); tahap sesudah pengajaran (menilai pekerjaan anak didik, menilai pengajaran guru, membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya).
Interaksi dalam pembelajaran sastra perlu dibangun seperti halnya interaksi dalam pembelajaran lain sehingga hasil yang baik dari interaksi tersebut dapat diperoleh. Terkadang siswa merasa malas belajar jika belajarnya sastra. Alasanya gurunya tidak interaktif, gurunya banyak kasih tugas, gurunya jutek dll. Melihat kenyataan ini semestinya guru menyadari permasalahan dirinya dengan siswa. Guru hendanknya mengetahui bahwa siswa memiliki berbagai cara belajar. Ada siswa yang cocok belajar dengan melihat, ada siswa yang cocok belajar dengan cara mendengar, dan ada siswa yang cocok belajar dengan melakukannya sendiri. Untuk pembelajaran sastra cara-cara terssebut dapat dikreasikan oleh guru menjadi sebuah pembelajaran yang aktif. Grinder (dalam Silberman, 2002:7) tercatat bahwa pada setiap grup dari 30 siswa, rata-rata 22 dapat belajar secara efektif selama pengajar menyediakan visual, auditory, dan aktivitas kinestetik. Delapan peserta lagi lebih suka pada satu model ketimbang dua model. Agar dapat memenuhi kebutuhan ini, guru hendaknya melakukan pembelajaran dengan multisensori dan diisi dengan berbagai variasi.
Guru juga perlu memperhatikan perubahan-perubahan pada setiap gaya belajar siswa.  Scroeder dan koleganya (dalam silberman, 2002: 7 – 8) telah memberikan Tipe Indikator Myers-Briggs (MBTI) pada siswa akademi. Hasilnya kurang lebih 60% siswa mempunyai orientasi belajar praktis bukan teoretis dan persentasenya meningkat dari tahun ke tahun.      
3.    Pembelajaran sastra dan minat siswa
Pengajaran sastra pada dasarnya mengemban misi afektif, memperkaya pengalaman siswa, dan menjjadukannya lebih tanggap dengan peristiwa-peristiwa di sekelilingnya. Tujuan akhirnya adalah menanam, menumbuhkan, dan mengembangkan kepekaan terhadap masalah-masalah manusiawi, pengenalan, dan rasa hormat terhadap tata nilai – baik dalam konteks individual maupun sosial (Oemarjati, 19996:196).
Persoalan minat belajar sastra pada siswa menjadi hal perlu diperhatika oleh guru. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi. Namun, satu hal yang pasti, faktor penggunaan model pembelajaran, metode penyajian dan pengevalusian hasil pembelajaran sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa. Hasil pengamatan dan wawancara dengan rekan-rekan guru menunjukkan bahwa selama ini pembelajaran sastra cenderung bersifat teoretis. Hal ini berhubungan dengan berbagai faktor lain, termasuk faktor kemampuan guru dan fasilitas belajar. Kurikulum sebenarnya tidak menuntut pemberlakuan satu metode tertentu dalam pembelajaran sastra. Kurikulum malah memberikan kesempatan pada guru untuk menggunakan berbagai metode secara bervariasi dalam penyajian materi tertentu sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Karenanya, orientasi pada pengajaran konsep teori sastra dan sejarah sastra tampaknya sudah saatnya dikurangi. Yang lebih dipentingkan saat ini tampaknya adalah pengakraban siswa dengan karya sastra sehingga mereka menemukan keasyikan personal dalam membaca, mengkritik, dan mengkreasikan teks sastra. Metode mind maps, respon-analisis, strata norma, dan pendekatan-pendekatan lain secara bervariasi sudah saatnya digunakan dalam pengkajian teks sastra di kelas. Untuk itu, guru perlu membaca buku dan media cetak lain yang menjelaskan konsep dasar dan teknik penerapan model dan metode atau pendekatan tersebut.
Hal lain yang erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat pada siswa adalah penggunaan teknik evaluasi pembelajaran. Selama ini, evalusi pembelajaran sastra lebih diarahkan pada penguasaan teori dan sejarah sastra. Soal-soal buatan guru ataupun soal standar nasional belum berorientasi sepenuhnya pada evaluasi yang bersifat apresiatif. Evaluasi yang bersifat apresiatif seharusnya beranjak dari hakikat karya sastra sebagai karya yang memungkinkan timbulnya interpretasi yang beragam, yang mungkin berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain. Karenanya, penggunaan soal bentuk isian ataupun soal uraian tampaknya lebih tepat digunakan dalam evaluasi pembelajaran sastra. Penggunaan soal bentuk yang lain, pilihan berganda misalnya, memaksa siswa untuk memilih satu jawaban yang dianggap paling tepat oleh pembuat soal sehingga interpretasi personal siswa tidak berkembang.



4.    Metode Mind Maps
Metode mind maps merupakan sebuah metode pembelajaran yang mencoba mengkreasikan antara pikiran dengan mendesain bentuk seperti sebuah peta.
Mind maps merupakan cara kreatif peserta didik secara individual untuk menghasilkan ide-ide, mencatat pelajaran, atau merencanakan penelitian baru. Dengan memerintahkan kepada peserta didik untuk membuat peta pikiran, mereka akan menemukan kemudahan untuk mengidentifikasi secara jelas dan kreatif  apa yang telah mereka pelajari dan apa yang sedang mereka rencanakan (Silberman, 2002:188).

Berikut prosedur dalam penerapan metode mind maps menurut Silberman (2002)
1.    Pilihlah topik untuk pemetaan pikiran. Beberapa kemungkinan mencakup:
a.       Problem atau isu tentang ide-idde tindakan yang Anda inginkan untuk menciptakan ide-ide aksi
b.      Konsep atau kecakapan yang baru saja Anda ajarkan
c.       Penelitian yang harus direncanakan oleh siswa
2.    Konstruksikan bagi kelas peta pikiran yang sederhana yang menggunakan warna, khayalan, atau simbol. Satu contoh berupa berjalan ke toko grosir di mana seseorang belanja. Dari peta pikiran yang mengkategorisasikan barang-barang yang dibutuhkan menurut toko di mana semuanya ditemukan (misalnya, hasil bumi, dan makanan, buatlah dalam peta pikiran Anda mendorong seluruh pikiran otak  (versus pikiran otak kanan dan otak kiri). Ajaklah peserta didik untuk menceritakan contoh-contoh sederhana dari kehidupan sehari-hari yang dapat mereka petakan.
3.    Berikanlah kertas, pena, dan sumber-sumber yang lain yang Anda pikir akan membantu peserta didik membuat peta pikiran yang berwarna dan indah. Berilah peserta, tugas memetakan pikiran. Tunjukkan bahwa mereka memulai peta mereka dengan membuat gambar yang menggambarkan topik atau ide utama. Kemudian, berilah mereka semangat untuk membagi-bagi seluruhnya ke dalam komponen-komponen yang lebih kecil dan menggambarkan komponen-komponen ini hingga batas luar peta (dengan menggunakan warna dan grafik). Doronglah mereka untuk menghadirkan setiap ide secara bergambar dengan menggunakan sedikit mungkin kata-kata. Dengan mengikuti ini, mereka dapat mengelaborasikan letupan secara detil ke dalam pikiran mereka.
4.    Berilah waktu yang banyak bagi peserta didik untuk mengembangkan peta pikiran mereka. Doronglah mereka untuk melihat karya orang lain untuk menstimulasi ide-ide.
5.    Perintahkan kepada peserta didik untuk saling membagi peta pikirannya. Lakukan diskusi tentang nilai cara kreatif untuk menggambarkan ide-ide.  
Menurut Rahman (2009) dalam penerapan mind maps ada enam langkah yang dapat dilakukan oleh guru, yaitu
1.    guru mengemukakan kompetensi yang murid capai;
2.    guru mengemukakan masalah yang harus ditanggapi oleh murid. Masalah harus mempunyai alternatif jawaban;
3.    guru membentuk kelompok murid dengan anggota 2 – 3 orang;
4.    setiap kelompok membuat alternatif jawaban
5.    setiap kelompok membacakan hasil diskusi dan guru mencatat pada papan tulis dan mengelompokkan sesuai kebutuhan; dan
6.    catatan pada papan tulis dibuat kesimpulan atau guru memberi banding sesuai dengan konsep yang disediakan guru.
Berdasarkan dua pendapat di atas untuk langkah atau prosedur yang ditempuh dalam penerapan mind maps dapat kita simpulkan bahwa penerapan mind maps pusatnya pada siswa (student center) dan guru hanya sebagai fasilitator dan mediator. Melihat cara kerja metode mind maps yang begitu kompleks dapatlah dikatakan bahwa usaha untuk meningkatkan daya berpikir kritis dan kemampuan menulis puisi melalui metode tersebut sangat cocok. Di mana dalam hal ini, siswa diarahkan untuk memetakan apa yang mereka pikirkan lewat sebuah gambar kemudian hasil petaan mereka, mereka ungkapkan dalam bentuk tulisan berupa puisi.      

5.    Berpikir kreatif
Antara pikiran, ucapan, perasaan, dan tulisan merupakan hal yang tak terpisahkan. Seseorang akan mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya baik melalui ucapan maupun melalui tulisan. Lisan dan tulisan adalah media yang digunakan penutur untuk mengungkapkan idenya. Sesorang yang memiliki banyak ide akan mampu menuangkannya jika memiliki media yang tepat. Sesuatu yang dipikirkan oleh seseorang yang kemudian dibuat sekreasi mungkin untuk menjadikan idenya dapat diterima atau dipikirkan lagi oleh orang lain merupakan sebuah nuansa kreatif yng dikeluarkan oleh orang tersebut.
Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang dialami seseorang bila mereka dihadapkan pada suatu masalah atau situasi yang harus dipecahkan. Ruggiero (1998) mengartikan berpikir sebagai suatu aktivitas mental untuk membantu memformulasikan atau memecahkan suatu masalah, membuat suatu keputusan, atau memenuhi hasrat keingintahuan (fulfill a desire to understand). Pendapat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang merumuskan suatu masalah, memecahkan masalah, ataupun ingin memahami sesuatu, maka ia melakukan suatu aktivitas berpikir.
Berpikir sebagai suatu kemampuan mental seseorang dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif. Berpikir logis dapat diartikan sebagai kemampuan berpikir siswa untuk menarik kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa kesimpulan itu benar (valid) sesuai dengan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah diketahui. Berpikir analitis adalah kemampuan berpikir siswa untuk menguraikan, memerinci, dan menganalisis informasi-informasi yang digunakan untuk memahami suatu pengetahuan dengan menggunakan akal dan pikiran yang logis, bukan berdasar perasaan atau tebakan. Berpikir sistematis adalah kemampuan berpikir siswa untuk mengerjakan atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan urutan, tahapan, langkah-langkah, atau perencanaan yang tepat, efektif, dan efesien. Ketiga jenis berpikir tersebut saling berkaitan (Siswono, 2009).
Berpikir kreatif berarti berusaha menghasilkan ide-ide cemerlang yang dapat berupa daya imajinasi atau pun hal faktual yang divariasikan dengan gaya si pemikir sendiri sehingga akan menghasilakan sesuatu yang berbeda dari yang lain. Pemikiran seseorang dengan orang lain terkadang memiliki inti yang sama tetapi cara penyampaiannya berbeda itu juga kreatif namanya. Ada orang yang menyampaikan sesuatu dengan gaya bercerita, ada pula yang dengan gaya memaparkan, atau memberikan.
Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukan indikator kreativitas dikemukan oleh (Munandar, 1992) sebagai berikut.
1.    Dorongan ingin tahu besar
2.    Sering mengajukan pertanyaan yang baik
3.    Memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah
4.    Bebas dalam menyatakan pendapat
5.    Mempunyai rasa keindahan
6.    Menonjol dalam salah satu bidang seni
7.    Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah  terpengaruh oleh orang lain.
8.    Rasa humor tinggi
9.    Daya imajinasi kuat
10.     Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan
sebagainya
11.     Dapat bekerja sendiri
12.     Senang mencoba hal-hal baru
13.     Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan
elaborasi).
 Selain itu, ada juga faktor yang mempengaruhi kreativitas. Kreativitas peserta didik agar dapat terwujud membutuhkan adanya dorongan dalam diri individu (motivasi intrinsik) dan dorongan dari lingkungan (motivasi ekstrinsik) (Rumayanti, 2009).

6.    Menulis puisi
Seperti halnya berbicara menulis juga mengandalkan kemampuan berbahasa yang produktif .kedua keterampilan tersebut merupakan usaha untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran yang ada pada diri seorang pemakai bahasa. Menulis puisi merupakan bagian dari usaha mengungkapkan ide. Dalam pembelajran sastra seslain menulis pusi ada juga menulis naskah drama, atau menulis prosa.
Puisi adalah karya sastra yang ditulis dengan melihat ketentuan-ketentuan tertentu yang diungkapkan dengan bahasa yang indah.  Puisi terdiri atas dua jenis jika dilihat dari perkembangannya, yaitu puisi lama dan puisi baru. Puisi lama termasuk pantun, gurindam, syair, karmina, talibun, sedangkan yang termasuk puisi baru, yaitu puisi dua seuntai , puisi tiga seuntai (terzin), puisi empat seuntai (kuatrin), lima seuntai, enam seuntai, tujuh seuntai samapai empat belas seuntai (soneta). Bentuk puisi baru bebas tidak terikat dengan sajaknya, sedangkan puisi lama terikat dengan sajak. 
Hal yang perlu diperhatikan ketika menulis puisi adalah pemilihan diksinya. Ketepatan memilih kosa kata untuk mengungkapkan sesuatu akan menjadikan sesuatu yang dituis tersebut lebh menarik.

C.           Simpulan
Setiap usaha akan membuahkan hasil. Begitu pula dalam pembelajaran, setiap ada keinginan dan usaha dari guru untuk mewujudkan sesuatu yang menjadi harapannya pasti akan terwujud dengan usaha yang maksimal. Usaha menerapkan sebuah metode dalam pembelajaran puisi, seperti metode mind maps adalah terobosan yang dapat ditempuh oleh seorang guru. Metode mind maps dengan langkah-langkah yang sederhana diharapkan dapat membangakitkan semangat belajar siswa serta meningkatkan hasil belajarnya. Puisi adalah materi yang menyenangkan bagi anak-anak yang menyenangi puisi. Akan tetapi, puisi juga dapat menyenangkan bagi anak-anak yang tidak menyenangi puisi lewat cara guru menyajikan pembelajarannya. Setiap pembelajaran tidak hanya disuguhkan dengan teori, tetapi juga praktik serta unsur keterlibatan langsung para siswa dalam mengaplikasikannya dan itu akan lebih mengasyikkan bagi siswa.


D.           Daftar Pustaka

Abya. (2010). Artikel Peserta Didik. [Online] Tersedia: http://artikele-aby.blogspot.com/2010/05/defiinisi-peserta-didik.html. [10 Juli 2010]

Djamarah, syaiful Bahri. (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif: Suatu Pendekatan Teoretis Psikologis. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2008. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosda Karya

Iskandarwassid. 2008. Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Oemarjati, Boen Sri dkk.. 1996. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Rahman. 2009. Model Mengajar & Bahan Pembelajaran. Bandung: Alqaprint Jatinangor.
Ruggiero, Vincent R. (1998). The Art of Thinking. A Guide to Critical and Creative Thought. New York: Longman, An Imprint of Addison Wesley Longman, Inc.
Rumayanti, Anggi. 2009. Ciri-Ciri Berpikir Kraetif. Tersedia [Online] http://bintangnyabintang.blogspot.com/2009/11/ciri-ciri-kemampuan-berpikir-kreatif.html {Minggu, 7 November 2010}
Silberman. 2002. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka insan Madani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar