Powered By Blogger

Kamis, 12 Mei 2011

Analisis Komponen Kebahasaan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD


 
Pengajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar merupakan tahapan awal yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan bahasa nasional bagi anak. Pengajaran bahasa dari masa ke masa seharusnya terus menaglami perkembangan karena perkembangan teknologi juga berkembang, baik teknologi komunikasi maupun teknologi sains.
Sampai akhir abad ke-19 pengajaran bahasa Indonesia masih didominasi oleh metode gramatika-terjemahan (grammar-translation method) yang mengutamakan penghafalan kaidah-kaidah tatabahasa dan penerjemahan dari bahasa asing ke dalam bahasa ibu dan sebaliknya. guru lebih banyak menggunakan waktunya untuk mengajarkan pengetahuan bahasa, bukan mengajarkan agar siswa-siswanya pandai berbahasa baik secara lisan maupun tertulis. Latihan-latihan menggunakan bahasa secara lisan boleh dikatakan tidak ada. Metode ini sangat digemari dan dalam kenyataannya masih digunakan, biarpun secara resmi dalam kurikulum 1984 metode yang dianjurkan adalah metode komunikatif (Purwo, dkk, 1996).
Pada awal abad ke-20 diperkenalkan metode langsung  (direct method). Metode ini beranggapan bahwa bahasa yang dijarkan pertama-tama adalah bahasa lisan bukan bahasa tulis. Metode ini juga menolak pengajaran tatabahsa seperti yang diajarkan dengan metode gramatika-terjemahan (Purwo, 1996).
Perbedaan metode pengajaran bahasa pada dua abad tersebut menjadikan kita berpikir kembali apakah ada yang salah dari setiap metode tersebut. Setiap metode pembelajaran sebenarnya ada untung ada rugi hanya saja bagaimana kreativitas guru dalam memilih metode yang tepat untuk setiap pembelajaran yang disusun.
Tuntutan pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum KTSP sekarang juga sama dengan tuntutan kurikulum sebelumnya, yaitu mengahrapkan siswa cakap dalam berbahasa lisan dan bahasa tulis. Terkadang hal inilah yang luuput dari perhatian guru, guru beranggapan apabila anak sudah mampu berbahasa Indonesia berarti sudah cakap dalam bahasa lisan dan tulis. Padahal, guru masih mempunyai kewajiban untuk memperhatikan bagaimana bahsa lisan anak dan bagaimana bahasa tulis anak sehingga dapat dilakukan evaluasi terhadap bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan oleh anak baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis. Dengan adanya evaluasi tersebut, guru berharap adanya kesadaran anak-anak dalam berbahasa secara baik dan benar.
Dalam prosedur pembelajaran pendekatan komunikatif terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan oleh setiap guru, yaitu teori bahasa, teori belajar, tujuan silabus, tipe kegiatan, peranan guru, peranan siswa, dan peranan materi. Adapun penerapannya disesuaikan dengan kurikulum, strategi, metode, teknik, dan tujuan pembelajaran (Santosa, 2008).
Proses pembelajaran bahasa yang dilakukan secara kompleks tanpa mengabaikan tingkat kemampuan komunikasi anak dan dan kemampuan aplikasi konsep kebahasaan terhadap bahasa yang diproduksi oleh anak baik dalam bentuk lisan maupun tulisan adalah suatu hal yang sangat penting dan sangat perlu diterapkan oleh semua guru. Pembelajaran sastra juga tidak terlepas dari pembelajaran bahasa. Tidak berarti ketika pembelajaran sastra berlangsung guru hanya mengajarkan sastra, sedangkan unsur kebahasaan diabaikan.
Berdasarkan pembahasan di atas penulis akan memaparkan pembahasan tentang pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar yang mencakup aspek kebahasaan dalam setiap kompetensi dasar (KD) baik KD yang langsung berkaitan dengan aspek kebahasaan maupun aspek kesastraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar