Rabu, 04 Mei 2011

IMPLIKASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU TERHADAP PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan secara sistematis. Proses pertumbuhan manusia bersifat meningkat, menetap,  kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Berbeda halnya dengan perkembangan yang relatif berkelanjutan sepanjang individu yang bersangkutan tetap memeliharanya. Dengan demikian, pertumbuhan cenderung mengarah pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh sampai pada masa tertentu sedangkan perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan mental atau perkembangan rohani yang melaju terus sampai akhir hayat.
            Menurut Chaplin (dalam Desmita, 2009:5) pertumbuhan adalah satu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian-bagian tubuh atau organisme sebagai suatu keseluruhan. Selanjutnya Chaplin (dalam Desmita, 2009:4) mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme dari lahir sampai mati. Pertumbuhan yang normal akan berpengaruh pada perkembangan anak baik dari segi mental, maupun intelektualnya. Kesiapan mental, maupun intelektual seorang anak akan menunjukkan tingkat kecerdasan mereka dalam dunia pendidikan. Sebab masuknya anak ke jenjang pendidikan merupakan satu peristiwa penting bagi anak yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku.
Perubahan tersebut terjadi karena koordinasi sel saraf di daerah otak sudah sempurna. Ini membawa implikasi pendidikan bahwa anak-anak pada usia balita akan sulit memfokuskan perhatian dan mempertahankan perhatian dalam jangka waktu yang lama. Namun, ketika mereka memasuki sekolah dasar fokus perhatiannya akan semakin kuat.   
Proses pematangan otak harus diiringi dengan peluang-peluang untuk mengalami dunia yang makin luas. Dalam hal ini, pendidikan harus memberikan lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang memungkinkan otaknya berkembang.
Seiring dengan bertambahnya usia anak, proses pembelajaran seharusnya lebih mendorong anak untuk mencari dan meneliti apa yang dikehendakinya baik di rumah, maupun di sekolah, di buku-buku, majalah, atau gambar dan alam sekitarnya sehingga mereka memperoleh apa yang dikehendakinya.
Sebaliknya proses pembelajaran harus jauh dari upaya menjejakan pengetahuan ke dalam otak anak. Penjejalan pengetahuan secara berlebihan justru akan mengganggu pemahaman dan melelahkan otak anak. “Otak adalah mata air yang seharusnya dialirkan secara berangsur-angsur bukan wadah yang harus langsung diisi penuh”, demikian kata Gabriel Camyer (dalam Desmita, 2009:95).
            Pendidikan merupakan salah satu wadah untuk membekali anak dalam hal berinteraksi, memahami, serta bersosialisasi dalam hidup bermasyarakat. Selain itu pendidikan juga merupakan salah satu kegiatan yang terorganisasi untuk membantu anak menghadapi masa depan. Sehingga dapat dikatakan bahwa “Pendidikan seharusnya merupakan upaya mengembangkan segala potensi anak, melatih pengamatan, dan pengambilan keputusan, merangsang pemikiran dan imajinasi, serta memperdalam pemahaman dan memperkuat konsentrasi” (Desmita, 2009:95).

1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dinyatakan bahwa yang menjadi tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji bagaiman implikasi pertumbuhan dan perkembangan individu terhadap pendidikan. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menberi informasi-informasi kepada audiens atau pembaca mengenai pertumbuhan dan perkembangan individu terhadap pendidikan. Dengan demikian, informasi-informasi yang diperoleh dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

 
BAB II

 
2.1 KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU
2.1.1 Pertumbuhan  
Dalam kehidupan manusia, ada dua proses yang beroperasi secara kontinyu, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Banyak orang menggunakan istilah pertumbuhan dan perkembangan secara bergantian. Kedua proses ini saling bergantung satu sama lain. Kedua proses itu tidak dapat dipisah-pisahkan. Akan tetapi, bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.
Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif, yaitu peningkatan ukuran dan struktur. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu.
Menurut A.E. Sinolung (1997) pertumbuhan merujuk pada perubahan kuantitas, yaitu yang dapat dihitung atau diukur, seperti tinggi dan berat badan. Sedangkan menurut Ahmad Thonthowi (1993), mengartikan pertumbuhan sebagai perubahan jasad yang meningkat dalam ukuran sebagai akibat dari perbanyakan sel-sel.
Hasil pertumbuhan antara lain bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat, dan kekuatannya. Begitu pula pertumbuhan akan mencakup perubahan yang makin sempurna tentang sistem jaringan saraf dan perubahan-perubahan struktur jasmani lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan pematangan fisik.
Pertumbuhan jasmaniah dapat diteliti dengan mengukur berat, panjang, dan ukuran lingkarannya. Umpamanya lingkaran kepala, lingkaran dada, lingkaran pinggul, lingkaran lengan, dan lain-lain. Dalam pertumbuhannya setiap bagian tubuh mempunyai perbedaan tempo kecepatan seperti pertumbuhan alat-alat kelamin berlangsung paling lambat pada masa kanak-kanak, tetapi mengalami percepatan pada masa pubertas. Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat berlangsung paling cepat pada masa kanak-kanak kemudian menjadi lambat pada akhir masa kanak-kanak, dan relatif pada masa pubertas.
Contoh pertumbuhan antara lain :
a.       Bertambahnya tinggi badan
b.      Bertambahnya lebar bahu
c.       Bertambahnya lebar panggul
d.      Bertambahnya ketebalan dada 
e.       Dll.
2.1.2        Perkembangan
Istilah perkembangan (development) dalam psikologi merupakan sebuah konsep yang cukup kompleks. Di dalamnya terkandung banyak dimensi. Oleh sebab itu, untuk dapat memahami konsep dasar perkembangan perlu dipahami beberapa konsep lain yang terkandung di dalamnya, antara lain pertumbuhan, kematangan, dan perubahan.
Menurut Nagel (dalam A. Razak Daruma, Sulaiman Samad, Mustafa, 2007) perkembangan merupakan pengertian di mana terdapat struktur yang terorganisasikan dan mempunyai fungsi-fungsi tertentu, karena itu bilamana terjadi perubahan struktur baik dalam organisasi, maupun dalam bentuk akan mengakibatkan perubahan fungsi.
Sugiyanto ( 2006 ) perkembangan adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah yang makin terorganisasi dan terspesialisasi. Makin terorganisasi artinya organ-organ tubuh makin bisa dikendalikan sesuai dengan kemauan. Makin terspesialisasi artinya organ-organ tubuh semakin bisa berfungsi sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Santrock (1998), menjelaskan perkembangan sebagai berikut.
Development is the patten of change that begins at conception and continues throught the life span. Most development involves growth, althought it includes decay (as in death and dying). The patten of movement is complex because it is product of ceveral processes biological, cognitive, and socioemotional.
Dari beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa perkembangan lebih mengacu kepada perubahan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju dan berlangsung secara terus menerus.
Contoh perkembangan:
  1. Bayi yang belum bisa berjalan kemudian meningkat menjadi bisa berjalan tertatih-tatih dua atau tiga langkah pada saat mengawali masa kecil, dan selanjutnya menjadi bisa berjalan dengan gerakan yang lancar sampai beberapa langkah.
  2. Pada anak kecil mula-mula baru bisa memegang bola dan belum bisa memantul-mantulkan ke lantai kemudian menjadi bisa memantul-mantulkan sekali dua kali dan selanjutnya bisa melakukannya dengan gerakan yang lancar menggunakan dua tangan atau satu tangan berulang kali tanpa lepas.
2.1.3 Ciri-ciri dan Prinsip-Prinsip Tumbuh Kembang Individu
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.
1)      Perkembangan menimbulkan perubahan.
Perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan. Setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang individu akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
2)      Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya. Setiap individu tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat. Karena itu perkembangan awal ini merupakan masa kritis karena akan menentukan perkembangan selanjutnya.
3)      Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Sebagaimana pertumbuhan, perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda-beda, baik dalam pertumbuhan fisik maupun perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing individu.
4)      Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Individu sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
5)      Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut dua hukum yang tetap, yaitu: a) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke arah anggota tubuh, b) Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerak kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
6)      Perkembangan memiliki tahap yang berurutan
Tahap perkembangan seorang individu mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya individu terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, individu mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar.
Kematangan merupakan proses intrinsik yang terjadi dengan sendirinya, sesuai dengan potensi yang ada pada individu. Belajar merupakan perkembangan yang berasal dari latihan dan usaha. Melalui belajar, individu memperoleh kemampuan menggunakan sumber yang diwariskan dan potensi yang dimiliki individu.
b.      Pola perkembangan dapat diramalkan.
Terdapat persamaan pola perkembangan bagi semua individu. Dengan demikian erkembangan seorang individu dapat diramalkan. Perkembangan berlangsung ari tahapan umum ke tahapan spesifik, dan terjadi berkesinambungan. ttp://www.aqilaputri.rachdian.com, 2010)

2.1.4.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tumbuh Kembang
            Individu
Pada umumnya individu memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal yang merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
a.       Faktor dalam (internal) yang berpengaruh pada tumbuh kembang individu.
b.      Ras/etnik atau bangsa
Individu yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, maka ia tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia atau sebaliknya.
c.       Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh tinggi, pendek,  gemuk atau kurus.
d.      Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun
pertama kehidupan dan masa remaja.
e.       Jenis kelamin.
Fungsi reproduksi pada individu perempuan berkembang lebih cepat daripada laki-laki. Tetapi setelah melewati masa pubertas, pertumbuhan individu laki-laki akan lebih cepat.
f.       Genetik.
Genetik  adalah bawaan individu, yaitu potensi individu yang akan
menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang individu seperti kerdil.
g.      Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada   ibu hamil dan lain-lain.
h.      Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan pada bayi seperti trauma kepala, asfiksia dapat
menyebabkan kerusakan jaringan otak.
i.        Gizi
Untuk tumbuh kembang bayi, diperlukan zat makanan yang adekuat.
j.        Psikologis
Hubungan individu dengan orang sekitarnya. Seorang individu yang  
tidak dikehendaki oleh orang tuanya atau individu yang selalu merasa
tertekan,  akan mengalami hambatan di dalam pertumbuhan dan
perkembangannya.
k.      Sosio-ekonomi
Kemiskinan selalu berkaitan dengan kekurangan makanan, kesehatan
lingkungan yang jelek dan ketidaktahuan, akan menghambat pertumbuhan individu.
l.        Lingkungan pengasuhan
Pada lingkungan pengasuhan, interaksi ibu-individu sangat 
mempengaruhi tumbuh kembang individu. 

2.2      IMPLIKASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU TERHADAP PENDIDIKAN DASAR


2.2.1    Implikasi Genetik dan Lingkungan Terhadap Pendidikan Dasar
Dalam situasi sekolah, gen-gen dapat dilihat sebagai bagian dari dunia nyata individu-individu. Meskipun demikian, bagi seseorang yang bekerja dekat dengan individu-individu dan remaja, kekuatan dan kelemahan dari pengaruh genetik ini adalah penting untuk dipahami. Seorang guru misalnya, perlu memahami sifat-sifat dan perbedaan-perbedaan individual. Di samping itu, pemahaman tentang dampak faktor-faktor lingkungan terhadap perkembangan individu akan memberi pendidik suatu pertimbangan yang optimistis tentang potensi-potensi yang penting ditumbuh kembangkan dalam diri semua peserta didik. Mcdevit dan Ormrod (2002) merekomendasikan beberapa hal penting yang perlu dilakukan guru dalam menyikapi pengaruh genetik dalam lingkungan bagi perkembangan individu, yaitu:
  1. Memahami dan menghargai perbedaan-perbedaan individual individu.
Guru yang menghargai berbagai karakteristik fisik, tipe-tipe kepribadian, dan bakat-bakat mereka dapat membuat peserta didik menjadi senang. Individu-individu yang tinggi dan pendek, gemuk damn kurus, yang serasi dan kikuk, yang sedih dan ceria, yang kalem dan pemarah semuanya harus mendapat tempat yang benar dalam hati guru.
  1. Menyadari bahawa sebenarnya faktor lingkungan mempengaruhi segala aspek perkembangan.
Gen-gen mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pertumbuhan fisiologis dan pengaruh yang sedang terhadap karakteristik fisikologis yang kompleks. Meskipun demikian, perkembangan dan belajar harus dipandang sebagai suatu hasil pertumbuhan biasa dari aspek biologis yang sangat berpengaruh terhadap individu. Faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruh perkembangan individu melalui banyak cara seperti melalui layanan pengajaran dan bimbingan. Individu-individu yang secara genetik memiliki kecenderungan untuk menjadi seorang yang mudah marah atau agresif dan dapat dilatih dan dibimbing seseorang yang lebih adaktif dan memperlihatkan tingkah laku prososial.
3.   Mendorong siswa menentukan pilihan-pilihan sendiri untuk meningkatkan pertumbuhan. Misalnya, untuk tumbuh menjadi lebih dewasa individu-individu dan remaja harus aktif mencari lingkungan-lingkungan dan pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan kemampuan naturalnya, dan guru mengambil posisi kunci untuk menolong mereka menemukan aktivitas dan sumber-sumber yang memungkinkan mereka menggunakan dan mengembangkan bakat-bakat mereka.

2.2.2    Implikasi Perkembangan Otak Terhadap Pendidikan Dasar
            Otak adalah sebuah sistem biologis manusia yang sengaja diciptakan Allah Swt. untuk mengindera dunia dan sekaligus memberikan berbagai tanggapan terhadapnya. Otak berfungsi untuk mengoptimalkan perilaku sehingga tubuh mampu menghdapi tantangan dan kesempatan yang datang setiap saat. Aktivitas sel saraf yang terorganisasi akan dirasakan sebagai aktivitas mental yang teratur. Oleh karena itu, otak menjadi penentu utama keberhasilan proses pendidikan karena otak sentral dari semua aktivitas manusia baik aktivitas organ yang ada di dalam, maupun aktivitas pancaindra yang ada di luar.
            Perkembangan otak mulai terjadi sejak masa prenatal, yaitu 25 hari setelah konsepsi. Pada awal masa perkembangan ini otak terlihat seperti sebuah tabung yang tidak rata dan sangat halus (Raiport, 1992; Jonhson, 1998). Tabung halus ini berisi sel-sel yang kemudian membentuk kantong-kantong atau ruang-ruang. Ruang-ruang tersebut terbagi menjadi tiga ruang, yaitu forebrain (otak depan), mitbrain (otak tengah), dan hindbrain (otak belakang).
            Perkembangan otak pada usia sekolah dan remaja banyak terjadi di wilayah korteks, suatu wilayah otak di mana individu dapat mengontrol tingkah lakunya sendiri. Selama masa usia sekolah, korteks mengalami perkembangan puncak dan terus diperbaiki dalam masa remaja (Kolb dan Vantien, 1998).
            Dalam hal ini, pendidikan harus memberikan lebih banyak kesempatan kepada peserta didik untuk menguasai keterampilan-keteramppilan yang memungkinkan otaknya berkembang. Proses pembelajaran harus jauh dari upaya menjejalkan pengetahuan ke dalam otak anak. Penjejalan pengetahuan secara berlebihan justru akan mengganggu pemahaman dan melelahkan otak anak. Menjejali otak anak dengan sejumlah besar informasi dan pengetahuan malah akan mematikan kecerdasan oleh karena itu, pendidikan seharusnya merupakan upaya pengembangan segala potensi anak, melatih pengamatan, dan pemngambilan keputusan, merangsang pemikiran dan imajinasi, memperdalam pemahaman dan memperkuat konsentrrasi.

2.2.3    Karakteristik Individu dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Dasar
            Karakteristik individu adalah keseluruhan kelakukan dan kemampuan yang ada pada individu sebagai hasil pembawaan dan lingkungannya. Untuk menjelaskan karakteristik-karakteristik individu baik dalam hal fisik, maupun mental biasanya digunakan istilah nature dan nurture. Nature (alam, sifat dasar) adalah karakteristik individu atau sifat khas seseorang yang dibawa sejak kecil atau yang diwarisi sebagai sifat pembawaan, sedangkan nurneture (pemeliharaan, pengasuhan) adalah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi individu sejak dari masa pembuahan sampai masa selanjutnya.
Adanya karakteristik individu yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan tersebut jelas membawa implikasi terhadap proses pendidikan di sekolah. Dalam hal ini, proses pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik secara individu. Ini berarti bahwa di dalam proses belajar mengajar setiap individu peserta didik memerlukan perlakuan yang berbeda sehingga strategi dan pelaksanaannya pun akan berbeda-beda.
Pemahaman pendidik tentang karakteristik peserta didik akan sangat berguna dalam memilih dan menentukan pola-pola pengajaran yang lebih baik atau lebih tepat yang dapat menjamin kemudahan belajar bagi peserta didik. Ketepatan pemilihan pola mengajar akan menimbulkan proses interaksi dari masing-msing komponen belajar mengajar secara optimal.  

2.2.4    Implikasi  Perkembangan Kognitif Terhadap Pendidikan Dasar
Perkembangan kognisi adalah perkembangan tentang pengetahuan. Perkembangan kognitif meliputi kemampuan metakognitif, strategi kognitif, gaya kognitif dan pemikiran kritis. Metakognisi adalah pengetahuan dan kesadaran tentang proses kognitif atau pengetahuan tentang pikiran dan cara kerjanya. Strategi kognitif merupakan salah satu kecakapan aspek kognitif yang penting dikuasai oleh peserta didik dalam belajar atau memecahkan masalah.
Kemampuan metakognisi merupakan aspek-aspek kognitif yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Peserta didik diharapkan mampu mengembangkan dan menggunakan strategi kognitif secara efektif. Ini berarti bahwa perkembangan metakognisi dan strategi kognitif memberikan beberapa implikasi bagi pendidikan. Secara umum pengetahuan metakognitif mulai berkembang pada usia 5-7 tahun dan terus berkembang selama usia sekolah, masa remaja, bahkan sampai dewasa. Meskipun demikian hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan individual antara peserta didik dalam usia yang sama.
Flevel menyatakan bahwa individu-individu yang masih kecil telah menyadari adanya pikiran, memiliki keterkaitan, atau terpisah dengan dunia fisik, dapat menggambarkan objek-objek dan peristiwa-peristiwa secara akurat atau tidak akurat, dan secara aktif menengahi interpretasi tentang realitas dan emosi yang dialami. Individu-individu usia 3 tahun telah mampu memahami bahwa pikiran adalah peristiwa mental internal yang menyenangkan (merujuk pada peristiwa-peristiwa nyata atau khayalan). Mereka juga dapat membedakan pikiran dengan pengetahuan.
Berdasarkan kemampuan metakognisinya proses pembelajaran pada individu-individu bukan semata-mata proses penyampaian materi bidang ilmu tertentu saja, sebaliknya yang lebih penting adalah proses pengembangan pengetahuan strategi kognitif peserta didik. Hal inilah yang menjadi kunci pendidikan untuk membantu siswa dalam mempelajari serangkaian strategi yang dapat mengahasilkan solusi problem. Berikut ini beberapa upaya yang harus dilakukan pendidik dalam mengembangkan kemampuan metakognisi dan strategi kognitif.
1.            Pendidik harus mengajarkan dan menganjurkan kepada peserta didik untuk menggunakan strategi belajar yang sesuai dengan kelompok usia mereka.
2.             Memberikan pelatihan tentang strategi belajar, kapan dan bagaimana menggunakan strategi untuk mempelajari tugas-tugas baru dan sulit. Penelitian tentang pelatihan strategi menunjukkan bahwa terjadinya kemajuan belajar secara subtansial setelah peserta didik mengikuti pelatihan strategi di sekolah (Seiffer dan Hofnung, 1994).
3.             Menunjukkan strategi belajar yang efektif serta mendorong peserta didik untuk menggunakan strateginya sendiri.
4.            Mengidentifikasi situasi-situasi di mana suatu strategi memungkinkan untuk digunakan.
5.            Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sendiri dengan sedikit atau tanpa bantuan dari pendidik.
6.            Memberi kesempatan seluas luasnya kepada peserta didik untuk mengakses hasil belajarnya sendiri, sehingga mereka bisa mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan apa yang belum diketahuinya.
7.            Sering memberikan umpan balik tentang kemajuan belajar mereka ketika pendidik sering memberikan umpan balik. Ia tidak hanya meningkatkan belajar dan prestasi akademik peserta didik di kelas, tetapi juga membantu metakognitif mereka berkembang dengan baik. Pendidik dapat juga menggunakan umpan balik untuk mendorong perkembangan strategi belajar siswa yang lebih efektif.
8.            Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengevaluasi belajarnya sendiri dan menolong mereka mengembangkan mekanisme melakukan perbuatan belajar yang efektif.
9.            Mengharapkan dan menganjurkan peserta didik untuk belajar mandiri, yakni melakukan perbuatan belajar sendiri, menentukan sendiri apa yang harus dilakukan memecahkan masalah sendiri, tanpa bergantung pada orang lain (Desmita, 2009:143-144).

2.2.5    Implikasi Konsep Diri Peserta Didik Terhadap Pendidikan
            Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, pendidik perlu melakukan upaya-upaya yang memungkinkan terjadinya peningkatan konsep diri peserta didik. Berikut ini akan di uraikan beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan oleh pendidik, yaitu:
  1. Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari pendidik
Dukungan pendidik ini dapat ditunjukkan dalam bentuk dukungan emosional (emotional support), seperti ungkapan empati, kepedulian, perhatian, dan umpan balik. Bentuk dukungan ini memungkinkan siswa untuk membangun perasaan, memiliki harga diri, memiliki kemampuan dan berarti
  1. Membuat siswa bertanggung jawab
Rasa tanggung jawab akan mengarahkan sikap positif siswa terhadap diri sendiri yang diwujudkan dengan usaha pencapaian prestasi belajar siswa yang tinggi serta peningkatan integritas dalam menghadapi tekanan sosial.
  1. Membuat siswa merasa mampu
Pendidik harus berpandangan bahwa semua siswa pada dasarnya memiliki kemampuan hanya saja mungkin belum dikembangkan. Dengan sikap dan pandangan positif terhadap kemampuan siswa ini, siswa akan berpandangan positif juga terhadap kemampuan dirinya.
  1. Mengarahkan siswa untuk mendapat tujuan yang realistis
Pendidik harus membentuk siswa untuk menetapkan tujuan yang hendak dicapai secara realistis mungkin, yakni sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
  1. Membantu siswa menilai diri mereka secara realistis
Untuk menghindari penilaian yang negatif terhadap dirinya sendiri, pendidik perlu membantu siswa menilai prestasi mereka secara realistis sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri terhadap kemampuan mereka. Hal ini pada gilirannya dapat membangkitkan motivasi, minat, dan sikap siswa terhadap seluruh tugas di sekolah.
  1. Menolong siswa agar bangga dengan dirinya secara relistis
Memberikan dorongan kepada siswa agar bangga dengan prestasi yang telah dicapainya merupakan hal penting karena rasa bangga tersebut adalah salah satu kunci untuk menjadi lebih positif dalam memandang kemampuan yang dimilikinya.

2.2.6        Perkembangan Kemandirian Peserta Didik dan Implikasinya dalam Dunia Pendidikan
Kemandirian adalah kecakapan yang berkembang sepanjang rentang kehidupan individu. Pengembangan kemandirian peserta didik meliputi:
    1. Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis
    2. Mendorong individu berpartisipasi dalam mengambil keputusan
    3. Memberi kebebasan kepada individu untuk mengeksplorasi lingkungan
    4. Penerimaan positif tidak membeda-bedakan individu yang satu dengan yang lain
    5. Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan individu.

2.2.7        Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual  Terhadap Pendidikan
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi dengan orang lain (Santrock, 1998). Individu-individu ketika dilahirkan tidak memiliki moral tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Individu belajar memahami perilaku baik dan perilaku buruk melalui orang tua, saudara, teman sebaya, dan guru.
Perkembangan spiritural adalah  suatu kepercayaan akan adanya suatu kekuatan atau suatu yang lebih agung dari dirinya sendiri (Witmer, 1989). Bollinger (1969) menggambarkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan terdalam dari diri seseorang yang apabila terpenuhi individu akan menemukan identitas dan makna hidup yang penuh arti. Istilah spiritual dan religius sering sekali dianggap sama, namun banyak pakar yang menyatakan keberatannya jika kedua istilah ini dipergunakan saling silang. Spritualitas kehidupan adalah inti keberadaan dari kehidupan. Spiritualitas adalah kesadaran tentang diri, dan kesadaran individu tentang asal, tujuan, dan nasib. Agama adalah kebenaran mutlak dari kehidupan yang memiliki manifestasi fisik di atas dunia. Agama memiliki kesaksian iman, komonitas, dan kode etik. Dengan kata lain spiritualitas memberikan jawaban siapa dan apa seseorang itu, sedangkan agama memberikan jawaban apa yang harus dikerjakan seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami bahwa spiritualitas merupakan gabungan dari semua dimensi: 1) Sense of meaning, 2) concept of divine, absolute, or force greater than one’s self, 3) relationship with divinity and other beings, 4) tolerance or negatife capability for mystery, 4) peak and ordinary experience engaget to enhance spirituality (may include rituals or spiritual discliplines), dan 6) spirituality as a systemic force that acts to integrate all the dimensions of one’s life (Desmita, 2009:277).
Memerhatikan uraian tentang perkembangan moral dan spiritual seperti yang telah dipaparkan, sekolah sebagai lembaga pendidikan dituntut untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan moral dan spiritual mereka sehingga mereka dapat menjadi manusia yang moralis dan religius. Beberapa strategi yang mungkin dapat dilakukan dalam membantu perkembangan moral dan spiritual peserta didik, yaitu:
1.      Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kerikulum tersembunyi.
2.      Memberikan pendidikan moral langsung, yakni pendidikan moral dengan pendekatan pada nilai dan sifat.
3.      Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai, yaitu pendekatan pendidikan moral tidak rangsung terfokus pada upaya membantu siswa untuk memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka.
4.      Menjadikan wahana yang kondusif bagi peserta didik menghayati agamanya.
Dengan pendekatan itu yang ditonjolkan dalam pendidikan agama adalah ajaran dasar agama yang sarat dengan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas.
5.      Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui pendekatan spiritual parentin.

2.2.8        Implikasi Proses Penyesuaian Individu Terhadap Penyelenggaraan
Pendidikan

Lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa setiap individu. Sekolah selain mengemban fungsi pengajaran juga mengemban fungsi pendidikan. Dalam kaitannya dengan pendidikan ini, peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga, yaitu sebagi rujukan dan tempat perlindungan jika individu didik mengalami masalah. Oleh karena itulah, di setiap sekolah ditunjuk wali kelas, yaitu guru-guru yang akan membantu peserta didik menghadapi kesulitan dalam pembelajarannya dan guru-guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu peserta didik yang mempunyai masalah pribadi, dan masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya sendiri, maupun terhadap tuntutan sekolah.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mempelancar proses penyesuaian diri  setiap individu khususnya di sekolah adalah sebagai berikut.
1.      Menciptakan situasi sekolah yang dapat menimbulkan rasa betah bagi individu didik baik secara sosial, fisik, maupun akademis.
2.      Menciptakan suasana belajar mengajkar yang menyenangkan bagi peserta didik.
3.      Usaha memahami peserta didik secara menyeluruh baik prestasi belajar, sosial, maupun seluruh aspek pribadinya.
4.      Menggunkan metode dan alat mengajar yang menimbulkan gairah belajar.
5.      Menggunakan prosedur evaluasi yang dapat memperbesar motivasi belajar.
6.      Ruangan kelas yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
7.      Peraturan atau tata tertib yang jelas dan dipahami oleh peserta didik.
8.      Guru menjadi teladan dalam segala aspek pendidikan
9.      Kerja sama dan saling pengertian dari para guru dalam melaksindividuan kegiatan pendidikan di sekolah.
10.  Pelaksanaan program bimbingan dan penyeluhan sebaik-baiknya.
11.  Situasi kepemimpinan yang saling pengertian dan tanggung jawab baik pada guru, maupun pada siswa.
12.  Hubungan yang baik dan penuh pengertian antara sekolah dengan orang tua siswa dan masyarakat (Sunarto dan Hartono, 2008:240).
Guru merupakan figur pendidik yang penting dan besar pengaruhnya terhadap penyesuaian peserta didik, maka dari itu seorang guru harus memiliki sifat-sifat yang efektif, yaitu sebagai berikut.
1.      Memberi kesempatan, antusias, dan berminat dalam aktivitas peserta didik di kelas.
2.      Ramah ( cheerful) dan optimis.
3.      Mampu mengontrol diri, tidak mudah terganggu, dan teratur tindakannya.
4.      Senang akan canda gurau dan mempunyai rasa humor.
5.      Mengetahui dan mengakui kesalahan-kesalahannya sendiri.
6.      Jujur dan objektif dalam memperlakukan peserta didik.
7.      Menunjukkan pengertian dan rasa simpati dalam bekerja dengan peserta didik (Ryans dalam Sunarto dan Hartono, 2008:241).    

2.3      ISU SENTRAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERTUMBUHAN     DAN PERKEMBANGAN INDIVIDU TERHADAP PENDIDIKAN
          Pertumbuhan dan perkembangan individu terhadap pendidikan sangat berkaitan dengan  berbagai sisi kehidupan yang digeluti oleh setiap individu. Masalah pertumbuhan dan perkembangan setiap individu juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan faktor sisoal. Faktor ekonomi mempengaruhi sisi ketercukupan gizi setiap individu yang tentunya akan berpengaruh  pada pertumbuhan. Begitu juga, faktor sosial akan mempengaruhi sisi perkembangan mental setiap individu.
Perlakuan sosial yang baik dalam hidup akan menjadikan perkembangan mental yang baik pula. Ketercukupan gizi yang sehat akan membuat pertumbuhan yang sehat dan perkembangan mental yang baik pula. Kedua faktor tersebut sangat berdampak pada pendidikan individu nantinya karena pertumbuhan dan perkembangan memberi implikasi yang sangat signifikan terhadap pendidikan.
Untuk melihat isu yang sedang marak saat ini, kami mencoba mengangkat fenomena anak jalanan. Hal ini merupakan fenomena yang terjadi di Negara Indonesia. Kemiskinan menjadikan anak-anak menjadi anak jalanan dan pengangguran menjadikan angka kemiskinan meningkat. Sejak krisis tahun 1998, kegiatan anak jalanan di Indonesia semakin meningkat, mulai di alun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan mall. Anak jalanan tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga membuat jiwa mereka gersang. Oleh karena itu, tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa anak jalanan senantiasa berada dalam situasi yang mengancam perkembangan fisik, mental, dan sosial bahkan nyawa mereka.
Keadaan kota merupakan salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya anak jalanan. Kota yang padat penduduknya dan banyak keluarga bermasalah membuat anak yang kurang gizi, kurang perhatian, kurang pendidikan, kurang kasih saying, dan kehangatan jiwa, serta kehilangan hak untuk bermain, bergembira, bermasyarakat, atau bahkan mengakibatkan anak-anak dianiaya batin, fisik, dan seksual oleh keluarga, teman, orang lain lebih dewasa. Faktor pendidikan menjadi perhatian kita bersama karena masa anak-anak itu adalah masa yang paling vital dalam dunia pendidikan.
Kegiatan Anak Jalanan  Menurut M. Ishaq (2000), ada tiga ketegori kegiatan anak jalanan, yakni : (1) mencari kepuasan; (2) mengais nafkah; dan (3) tindakan asusila. Kegiatan anak jalanan itu erat kaitannya dengan tempat mereka mangkal sehari-hari, yakni di alun-alun, bioskop, jalan raya, simpang jalan, stasiun kereta api, terminal, pasar, pertokoan, dan mall.
Terkait hal yang disebutkan di atas, maka perlu adanya kampanye perlindungan terhadap anak jalanan sebagai bentuk sosialisasi dan alangkah baiknya bila dilakukan secara terus menerus setidaknya untuk mendorong pihak-pihak di luar anak jalanan agar menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap anak jalanan. Sebenarnya anak jalanan tidak berbeda dengan anak yang lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Pada masa anak-anak seperti itu otak yang memuat 100-200 milyar sel otak siap dikembangkan serta diaktualisasikan untuk mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi. Pada perkembangan otak manusia mencapai kapasitas 50 % pada masa anak usia dini.
Pasal 9 ayat (1) UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menyebutkan; “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Pendidikan tidak sekedar pendidikan, artinya pendidikan semestinya dilandasi oleh cinta dan kasih sayang. Pendidikan pada hakikatnya bertujuan membentuk karakter anak menjadi anak yang baik. Khusus untuk anak jalanan pendidikan luar sekolah yang sesuai adalah dengan melakukan proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam wadah rumah singgah.
Menurut Ishaq (2000), khusus untuk anak jalanan, pendidikan luar sekolah yang sesuai adalah dengan melakukan proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam wadah "rumah singgah" dan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), yaitu: anak jalanan dilayani di rumah singgah, sedangkan anak rentan ke jalan dan orang dewasa dilayani dalam wadah PKBM.  Rumah singgah dan PKBM itu dipadukan dengan-sekaligus menerapkan-pendekatan kelompok dan CBE (Community Based Education, pendidikan berbasis masyarakat) serta strategi pembelajaran partisipatif dan kolaboratif (participative and collaborative learning strategy).  Program pendidikan yang terselenggara itu, antara lain, dapat berupa : Kejar Usaha; Kejar Paket A (setara SD); Kejar Paket B (setara SLTP); bimbingan belajar; Diktagama (pendidikan watak dan dialog keagamaan); Latorma (pelatihan olahraga dan bermain); Sinata (sinauwisata); Lasentif (pelatihan seni dan kreativitas); Kelompok Bermain; Kampanye KHA (Konvensi Hak Anak-anak); FBR (forum berbagi rasa); dan pelatihan Taruna Mandiri.
Untuk materi pembelajaran, menurut  Ishaq (2000:371), Materi pembelajarannya mencakup: agama dan kewarganegaraan; calistung (membaca-menulis-berhitung); hidup bermasyarakat; serta kreativitas dan wirausaha. Prestasi belajar dan keberhasilan program dievaluasi dengan tahapan self-evaluation berikut :(1) penetapan tujuan belajar; (2) perumusan kriteria keberhasilan belajar; (3) pemantauan kegiatan belajar; serta (4) penetapan prestasi belajar dan keberhasilan program. Hasil evaluasi itu diungkapkan pada akhir masing-masing kegiatan melalui laporan lisan atau tertulis. Hasil evaluasi kegiatan belajar insidental dilaporkan secara lisan atau ditempel pada papan pengumuman yang terdapat di rumah singgah atau PKBM, sedangkan hasil evaluasi kegiatan belajar berkesinambungan dilaporkan melalui buku raport. Adapun keberhasilan program diungkapkan secara berkala : harian, mingguan, bulanan, dan tahunan.
Beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia, perhatian sebagian warga masyarakat terhadap kehidupan anak-anak makin meningkat. Ini juga dampak dari kiat-kiat yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) adalah Lembaga Independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara yang dibentuk berdasarkan amanat Keppres 77/2003 dan pasal 74  UU No. 23 Tahun 2002 dalam rangka untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia. Lembaga ini bersifat independen, tidak boleh dipengaruhi oleh siapa dan darimana serta kepentingan apapun, kecuali satu yaitu “Demi Kepentingan Terbaik bagi Anak” seperti diamanatkan oleh CRC (KHA) 1989.
Konvensi hak anak-anak yang dicetuskan oleh PBB (Convention on the Rights of the Child), sebagaimana telah diratifikasi dengan Keppres nomor 36 tahun 1990, menyatakan, bahwa karena belum matangnya fisik dan mental anak-anak, maka mereka memerlukan perhatian dan perlindungan. Perlindungan itu diberikan oleh masyarakat yang berdaya. Masyarakat yang berdaya adalah mereka yang memperoleh pemahaman dan mampu mengawasi daya-daya sosial, ekonomi, dan politik sehingga harkat dan martabatnya meningkat. Lebih jauh, Kindervatter (1979:13) mendefinisikan pemberdayaan atau empowering sebagai "people gaining an understanding of and control over social, economic, and/or political forces in order to improve their standing in society". 
Pendidikan utama adalah keluarga. Di sini dituntut kesepahaman dalam mendidik antara ayah dan ibu. Keluarga yang ideal dan kondusif bagi tumbuh-kembangnya anak, sangat didambakan pula oleh anak-anak jalanan. Pendirian rumah singgah serta lembaga Komisi Perlindungan aanak Indoonesia merupakan solusi terhadap kebutuhan pendidikan serta kehidupan yang layak bagi anak jananan. Pemerintah Indonesia juga sudah memberikan penghargaan beberapa tokoh perlindungan anak. Penghargaan ini diserahkan oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta Swasono, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo dan Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah yang diserahkan secara bergantian, simbol penghargaan tersebut pada acara puncak peringatan Hari Anak Nasional di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (23/7). Penerima penghargaan antara lain tokoh nasional perlindungan anak Seto Mulyadi, aparat hukum peduli anak AKP B. Sembiring, pencipta lagu anak AT Mahmud, serta pengelola Lembaga Perlindungan Anak di Lampung, Budiono. "Terima kasih kepada para pimpinan lembaga masyarakat, yayasan, pejuang, sukarelawan, dan dermawan yang telah merawat, mengasuh, mendidik dan melindungi anak-anak kita," kata Meutia pada acara yang dihadiri ratusan anak dari berbagai daerah itu.
Kalau kita lihat sungguh luar biasa perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh para dermawan, sukarelawan, lemabga masyarakat, yayasan, dan pejuang tersebut. Secara kasat mata mereka telah mengamalkan hadis nabi yang artinya “Tidaklah beriman kepadaku, orang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya berada di sampingnya kelaparan dan ia mengetahui hal itu” (Hadis riwayat Bukhari dan Thabrani). Semua yang mereka lakukan adalah bukti amalan iman dan kecintaannya kepada sesama makhluk hidup.
Dalam hadis yang lain Rasulullah menyebutkan “Orang-orang yang mengasihi itu akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Maka kasihilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya kamu akan dikasihi oleh mereka yang ada di langit” (HR. Abu Dawud dan At-Tarmizi)” dalam (Ulwan, 2002).
Didiklah anak-anakmu dengan pendidikan yang baik” (HR. Ibnu Majah) mendidik dengan baik tentunya butuh lingkungan yang baik. Lingkungan yang baik pertama yang harus didapat oleh setiap individu adalah keluarga. Keluarga adalah tempat pendidikan pertama. Selain keluarga, lingkungan masyarakat atau pergaulan, dan sekolah merupakan tempat yang akan mendidik setiap individu dan setiap lingkungan tersebut akan memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu baik secara mental, jasmani, dan rohaninya. Untuk itu, pilihlah lingkungan yang baik.

BAB III
SIMPULAN
Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang telah disampaikan dapat disimpulkan:
  1. Setiap individu akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama hidupnya.
  2. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada individu yang sehat dalam perjalanan waktu.
  3. Perkembangan adalah perubahan karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju dan berlangsung secara terus menerus.
  4. Pertumbuhan dan perkembangan seorang individu sangat dipengaruhi oleh hereditas, lingkungan, proses kematangan , dan asupan gizi dalam tubuhnya.
  5. Pertumbuhan dan perkembangan individu berimplikasi pada pendidikan, sebagai contohnya adalah kehidupan anak jalanan yang pertumbuhan dan perkembangannya tidak mendapat pelayanan yang layak sehingga mereka tersisihkan. Padahal mereka punya hak yang sama seperti anak-anak lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
A. Razak Daruma dkk. 2007. Perkembangan Peserta Didik. FIP UNM  Makssar.
Bolinger, D. 1968. Aspek of Language. Newyork: Harcourt Brace.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI, 2008.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: PT Remaja Rosda
         Karya.
___________. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.


Flevel, J. H. 1977. Cognitive Development. Englewood Cliffs New Jersey: Prentice
           Hall.

http://www.aqilaputri.rachdian.com. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan
          Anak. Jurnal, edisi 8 Februari.

  Ishaq, M. (2000). Pengembangan Model Program Taruna Mandiri. Disertasi. Tidak Diterbitkan. Bandung : PPS-UPI Bandung.

Kindervater, S. (1979). National Education as An Empowering Process. Massachussetts: Center for International Education University of Massachussetts.

McDevitt, T. M. dan J. E. Ormrod. 2002. Child Development and Education. New
         Jersey: Merrill Prentice Hall.

Santrock, Johm. 1998. Child Development. Boston: Massachusetts, McGraw Hill
         Companies.

Seifert, K.L dan R. J. Hoffnung. 1994. Chid Adolescent Development. Boston:
         Houghton Mifflin Company.

Sinolungan, A. E. 1997. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Gunung
         Agung.

Suharto dan Hartono. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sugianto. 2006. Perkembangan dan Belajar Motorik. Universitas Terbuka.
Ulwan, Abdullah Nashih. 2002. Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar