Powered By Blogger

Jumat, 10 Februari 2012

Rahmah Si Gadis Belia


Rahmah Si Gadis Belia
Pagi yang cerah menyapanya dibalik jendela kamar. Ia tersenyum mendapati dirinya masih bisa menatap mentari dan merasakan sejuknya udara pagi. Gadis belia usia 19 tahun itu beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tidak ingat kalau dirinya telah meninggalkan suatu kewajiban yang tak sepatutnya dia tinggalkan. Dia seperti lupa akan adanya dosa. Tanpa dosa dia membersihkan dirinya di kamar mandi lalu kembali ke kamarnya dan berbenah diri serta membereskan kamarnya hingga semua tertata rapi. Gadis itu sangat rapi memang. Dandanannya juga sangat menarik. Setiap mata yang memandangnya pasti berucap “subhanallah betapa cantik dan anggunnya si gadis belia ini”.
Dia ingat bahwa jadwal kuliahnya hari ini dimulai dari pukul 08.00 – 12.00 berhubung jadwal kuliah hanya empat jam. Jadi, dia tidak membawa bekal. Sebelum berangkat kuliah dia sarapan terlebih dahulu. Sarapan pagi telah disiapkan oleh sang ibunya yang tercinta. Dia tak pernah disuruh untuk membuat sarapan bai pagi, maupun sore apalagi siang. Sebagai anak semata wayang dia sangat-sangat diperhatikan oleh kedua orang tuanya.
Ada hal yang istimewa dari si gadis belia ini, walau dia disayang oleh ibu bapaknya dia tidak pernah meminta sesuatu apa pun pada orang tuanya. Namun, tanpa diminta semua terpenuhi da sayangnya dia belum pernah sekalipun melakukan pekerjaan yang dapat meringankan beban orrang tuanya. Dia tidak pernah meminta dan tidak pernah diminta. Kehidupan yang harmonis dan adem-adem ayem memang. Kondisi keluarganya berkecukupan sehingga dia tidak merasa kekurangan suatu apa pun. Orang tuanya pun seperti memahami apa-apa saja yang dibutuhkan oleh dirinya.
Hidup di dalam rumah tanpa kecamuk ibarat berlayar di laut tanpa ombak. Semua tenang kesiap siagaan pun berbeda dengan rumah yang penuh kecamuk atau laut yang berombak. Pagi itu dengan senyuman ceria di bibirnya dia berpamitan pada ibunya untuk berangkat kuliah. Dengan ringan di langkahkan kakinya menuju Honda kesayangannya. Honda Mio hadiah sang ibu dan ayah ketika dia lulus SMA. Dengan naik mio dia dapat tiba di kampus dalam waktu 25/30 menit karena jarak tempuh geurugok sampai ke matangglumpangdua tidaklah terlalu jauh.
Dengan berucap bismillah dinyalakanlah mesin hondanya dan melajulah ia di jalan raya hingga sampai di kampusnya dengan selamat. Perkuliah pada jam pertama adalah pendidikan psikologi. Seorang ibu dosen muda berusia 34 tahun dengan dua orang putra (begitulah identitas dosen tersebut yang dia ketahui) masuk ke ruang kuliah. Sang dosen menyampaikan salam dan sedikit pesan di awal perkuliahan. Pesan seperti biasa nasihat tentang kehidupan. Dosen menyebutkan tak ada penyesalan kecuali di akhir setiap peristiwa, tak ada kata tobat dari seorang hamba kecuali ketika ajal menjelang. Nah, kita ingin yang mana? Ingin jadi orang menyesal atau ingin jadi orang yang tidak menyesal? Jika ingin menjadi orang menyesal lakukanlah semuanya sesuka hati kita dan jika ingin menjadi orang yang tidak menyesal perbaikilah diri kita mulai hari ini dari hal-hal yang harus diperbaiki. Ada banyak hal yang mesti kita perbaiki setiap hari, mulai dari amal ibadah kita, sikap kita, cara kita menjalani hidup, cara bergaul kita dan lain-lain.
Kemudian sang dosen melanjutkan lagi. Hari ini kita belajar psikologi yang kita artikan ilmu jiwa. Nah sekarang saya mau bertanya siapa yang hari ini jiwanya sehat? Semua mahasiswa menjawab “Alhamdulillah kami sehat Bu” sang dosen bertanya lagi, siapa yang hari ini jiwanya sehat? Para mahasiswa termasuk sang gadis belia heran mengapa pertanyaan itu diulangi lagi padahal tadi jawabannya serentak. Tidak terdengar jawaban. Lalu sang dosen berkata “ Mengapa semua diam?” bingung bu tadi kami sudah menjawab tapi ibu malah mengulangi pertanyaan yang sama. Begitulah jawan si gadis belia. Baik, bagaimana cirri-ciri orang yang berjiwa sehat? Salah seorang mahasiswa menjawab “mengenali siapa dirinya bu”. Tepat sekali “jawab sang dosen. Nah, lalu siapa di sini yang kenal siapa dirinya? Para mahasiswa diam. Dosen bertanya lagi “Apa semua tidak kenal siapa dirinya? Para mahasiswa menjawab “kenal Bu”. Siapa? Tanya dosen lagi, saya, Rahmah Bu jawab si gadis belia. Ya, kamu rahmah, selain itu apa lagi yang kamu kenal dari dirimu? Saya anak bu indah dan bapak ahmad. Saya tinggal di geurugok, saya anak semata wayang, saya berasal dari keluarga berkecukupan dan saya selalu disayang oleh orang tua. Itu bu tentang saya. Baik Rahmah sudah selesai, ada yang lain? Tidak ada yang menyahut. Nah, apakah Rahmah sudah sempurna mengenali dirinya? Sudah Bu? Jawab para mahasiswa. Ibu dosen pun meluruskan cara mahasiswa mengenali dirinya. Jiwa yang sehat secara psikologi (ilmu jiwa) adalah jiwa yang mengenal siapa dirinya. Karena kalau orang yang kenal siapa dirinya dia tidak akan berlaku merusak dirinya atau pun melukai dan menyakiti dirinya sendiri karena dia sadar dirinya itu adalah miliknya jika sakit dia sendiri yang merasakannya. Lalu Siapakah orang yang mengenal dirinya sendiri yang tidak mau sakit jiwanya. Dialah yang sadar bahwa dia adalah milik sang pencipta dia sadar bahwa dirinya lahir ke dunia karena kuasa sang Penguasa yaitu Allah swt. Ketika seseorang sadar akan dirinya hamba Allah maka semua kewajiban yang diberikan kepadanya akan dilakukannya karena itu adalah bukti dia mengenal dirinya. Itu artinya jiwanya sehat. Nah sekarng siapa yang tadi pagi melaksanakan shalat subuh? Siapa yang tidak pernah meninggalkan kewajiban shalat? Dialah yang jiwanya sehat. Mari kita bertanya pada diri sendiri sudahkah jiwa kita sehat? Ternyata psikologi mengajak kita mengenal lebih jauh siapa kita sebenarnya.
Rahmah si gadis belia seperti terbangun dari sebuah mimpi ketika mendengar ulasan snag dosen tak pernah terbayang pada dirinya tentang hal itu. Tidak terpikirkan ketika dia belajar psikologi ternyata dia belajar ilmu tentang dirinya sendiri. Ada riak-riak bening dibola matanya. Dia beristighfar lirih karena subuh tadi tidak dia tunaikan. Dia teringat bagaimana ketika dia bangun pagi apa yang dia lakukan hingga ia sampai ke kampus. Ia merasa jiwa nya tak sakit tapi ternyata dia sadar sekarang jiwanya sedang tak seimbang. Bagaimana dia bisa merasa jiwanya sehat jika dia sebagai hamba tak menunaikan kewajibannya pada sang khaliq. Padahal, sang khaliq telah memberikan kepadanya hak untuk hidup. Mulai detik itu, terazzam dalam hatinya mulai hari itu ia akan shalat lima waktu tanpa meninggalkan satu kalipun. Walau selama ini orang tuanya tidak pernah menyuruhnya.
Tidak terasa perkuliahan pun selesai. Ada kelegaan di hati para mahasiswa ketika mereka belajar tadi. Rahmah langsung beranjak ketika dosen keluar ruangan. Dia mengejar sang dosen dan menanyakan apa boleh dia bertanya lebih jauh tentang berbagai hal pada sang dosen di luar jam kuliah termasuk masalah agama. Sang dosen membolehkan dan beliau pun memberikan no hp nya pada rahmah. Rahmah berterima kasih pada sang dosen dan pamit karena ingin masuk kuliah jam berikutnya.
Tepat pukul 12.00 perkuliahan selesai. Rahmah pun langsung pulang dengan Honda Mio-nya. Di hatinya telah ada azzam yang kuat untuk melaksanakan shalat zuhur sesampainya di rumah. Dia tidak ingin menjadi orang yang menyesal dan orang yang jiwanya tidak sehat. Ketika berkendaraan bayangannya ingin cepat-cepat tiba di rumah. Dia ingin sekali bersimpuh di sajadahnya yang sudadh lama tidak digunakannya lagi. Dia ingin bermunajat memohon ampunan atas kesakitan jiwanya selama ini. tanpa dia sadar tiba-tiba sebuah mobil datang dari arah belakangnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak bisa mengelak karena di depannya juga ada mobil dari arah yang berbeda. Wallahu’alam entah bagaimana, tabrakan itu pun tak bisa dihindari. Malang tak bisa ditolak untung tak bisa dijemput. Suara dentuman yang keras terdengar di sepanjang jalan simpang kameng. Honda yang dikendarai Rahmah jatuh ke parit sedang Rahmah sendiri terseret ke tengah jalan. Sungguh hal yang mengerikan. Tak ayal lagi si gadis belia “Rahmah” benar-benar tidak tertolong lagi. Jiwanya telah melayang dijemput oleh Irail. Tidak ada yang mengenali dirinya sebelum identitasnya ditemukan. Tidak ada yang tahu dengan niat hatinya. Semua dia bawa bersama azzam hati yang belum sempat dilaksanakan. Semoga jiwanya bukanlah jiwa sakit setelah dia obati dengan penawar azzam dan niat di hatinya.

Sepenggal kisah yang terinspirasi dari banyaknya kisah musibah yang terjadi. Semoga dapat menjadi renungan kita bersama.